Dolar AS Tertinggi dalam 18 Bulan, Ini Lima Pemicunya
DXY naik ke level tertinggi sejak April 2025. Ketegangan geopolitik, harga minyak, prospek suku bunga, imbal hasil Treasury, dan pelemahan euro menjadi penopang dolar AS.
Dolar AS mencapai level terkuat dalam 18 bulan pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, ditutup naik 0,37 persen ke 102,58—posisi tertinggi sejak April 2025.
Sepanjang 2026, DXY telah menguat lebih dari 4 persen. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan ekonomi global, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga harga minyak yang mahal dan kekhawatiran mengenai utang pemerintah. Di balik penguatan dolar, ada sejumlah faktor yang saling berkelindan.
Lima faktor yang menopang penguatan dolar AS
Pertama, meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong investor mencari aset yang dipandang lebih aman. Konflik AS-Israel dengan Iran meluas, sementara kelompok Houthi dari Yaman meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi. Sejumlah fasilitas penting, termasuk bandara dan infrastruktur energi, menjadi sasaran.
Serangan terhadap kapal tanker turut memicu kekhawatiran atas keamanan jalur perdagangan minyak dunia. Dalam situasi yang tidak menentu, investor cenderung mengurangi aset berisiko. Dolar menjadi salah satu tujuan karena banyak digunakan dalam perdagangan dan transaksi keuangan internasional, sementara pasar aset berdenominasi dolar—terutama obligasi pemerintah AS—memiliki likuiditas besar.
Kedua, harga minyak yang melonjak memperbesar risiko inflasi. Minyak Brent kembali menembus US$100 per barel dan sempat mencapai sekitar US$107 pada Senin, 12 Oktober. Energi dibutuhkan dalam transportasi, industri, dan produksi barang, sehingga kenaikan harga minyak dapat menambah biaya produksi serta distribusi.
Jika biaya tersebut berlanjut, harga barang dan jasa juga berpotensi naik. Tekanan ini membuat pasar mengkhawatirkan inflasi AS tetap tinggi, ketika The Federal Reserve masih berupaya mengembalikannya ke target 2 persen.
Suku bunga dan imbal hasil obligasi ikut menopang DXY
Faktor ketiga adalah prospek suku bunga AS yang bertahan tinggi. Pada September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Kekhawatiran bahwa inflasi belum mereda membuat pelaku pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Peluang kenaikan lanjutan juga masih terbuka jika inflasi kembali meningkat.
Suku bunga yang tinggi dapat membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik karena berpotensi memberikan imbal hasil lebih besar. Dengan demikian, lonjakan harga minyak bukan hanya memunculkan risiko inflasi, tetapi juga dapat menguatkan dolar melalui ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat.
Keempat, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury menambah daya tarik aset dolar. Dalam beberapa pekan terakhir, pasar obligasi global tertekan oleh kekhawatiran inflasi dan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Ketika harga obligasi turun, imbal hasilnya meningkat.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 5,3 persen pada pekan sebelumnya, sebelum kembali bergerak di kisaran 5,2 persen. Investor asing yang ingin membeli obligasi AS membutuhkan dolar untuk bertransaksi. Permintaan tersebut dapat memberi dukungan tambahan bagi mata uang AS.
Namun, kenaikan imbal hasil tidak selalu menjadi kabar baik bagi dolar. Jika yield naik karena pasar semakin cemas terhadap utang pemerintah AS, tekanan dapat merambat ke pasar keuangan. Karena itu, investor juga mencermati penyebab kenaikan imbal hasil, bukan hanya angkanya.
Pelemahan euro turut mengangkat indeks dolar
Faktor kelima datang dari luar AS, yakni melemahnya euro. Mata uang tunggal Eropa itu memiliki bobot terbesar dalam perhitungan DXY. Akibatnya, perubahan nilai euro dapat berpengaruh besar terhadap pergerakan indeks, termasuk ketika dolar menguat relatif terhadap mata uang tersebut.
Gabungan faktor-faktor itu memperlihatkan bahwa penguatan dolar bukan semata-mata cerminan kondisi ekonomi AS. Ketegangan geopolitik, risiko kenaikan harga energi, arah kebijakan The Fed, imbal hasil obligasi, dan pergerakan euro sama-sama menjadi perhatian pasar.
Ke depan, investor akan mencermati perkembangan konflik dan harga minyak, sekaligus mencari petunjuk mengenai inflasi serta keputusan suku bunga The Fed. Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat menggeser daya tarik dolar dan menentukan apakah penguatannya bertahan.
