IHSG Anjlok 3,49%, Saham BCA Tertekan 6,35%

IHSG ditutup turun 3,49% ke level 5.098,06 pada Kamis, 29 Oktober 2026. Saham BCA melemah 6,35% di tengah tekanan jual dan perhatian investor pada sentimen global.

ihsg-anjlok-saham-bca-tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,49% ke level 5.098,06 pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Tekanan jual yang muncul sejak pagi menyeret indeks menjauh dari penguatan awal, sementara saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi salah satu pemberat utama setelah turun 6,35% ke Rp 4.940 per saham.

IHSG terkoreksi 184,26 poin. Padahal, indeks sempat dibuka di level 5.305,20 dan naik hingga 5.320,90 pada awal perdagangan. Penguatan itu tak bertahan lama. Tekanan jual mulai terasa setelah pembukaan dan mendorong indeks turun tajam sebelum pukul 10.00 WIB.

Tekanan jual membawa IHSG mendekati titik terendah

Pergerakan indeks tetap rapuh sepanjang sesi. Pada siang hingga sore, IHSG bergerak di kisaran 5.125–5.175. Indeks sempat memantul ke area 5.120-an menjelang penutupan, tetapi kembali melemah pada menit-menit akhir dan menutup perdagangan dekat posisi terendah hari itu.

Volume transaksi tercatat 217,69 juta lot dengan nilai mencapai Rp 10,13 triliun. Pelemahan terjadi di sejumlah sektor, terutama utilities yang turun 5,99%, jasa pendidikan sebesar 4,60%, serta basic materials yang terkoreksi 4,02%.

BBCA melemah 6,35% ke Rp 4.940 per saham, dengan kapitalisasi pasar Rp 602,8 triliun. Saham lain yang turut menekan indeks ialah PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), dan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI).

Di tengah koreksi, sejumlah saham menahan laju penurunan IHSG. Di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), PT Temas Tbk. (TMAS), dan PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA).

Keputusan The Fed belum meredakan kekhawatiran pasar

Pelemahan pasar terjadi meski bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%. Keputusan pada Kamis itu tidak bulat: dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan 25 basis poin.

The Fed menyatakan inflasi masih tinggi dan membuka ruang bagi penyesuaian suku bunga berikutnya. Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberi petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya, tetapi menegaskan bank sentral tetap berupaya membawa inflasi ke target 2%.

Warsh juga menyebut ekonomi AS semakin kuat. Pertumbuhan pada semester pertama 2026 direvisi naik menjadi 2,4%. Namun, suku bunga tinggi masih membebani biaya pinjaman dan dapat memengaruhi investasi, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan. Pasar memperkirakan peluang kenaikan bunga pada Desember sekitar 80%, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,042% setelah keputusan diumumkan.

Inflasi AS dan arah kebijakan global jadi perhatian

Investor juga menanti data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk September yang dijadwalkan rilis pada Kamis pukul 19.30 WIB. PCE menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter. Pada Agustus, inflasi PCE tercatat 3,4% secara tahunan dan inflasi inti 3,0%.

Inflasi PCE inti September diperkirakan naik 0,3% secara bulanan, dari 0,2% pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, angkanya diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah bank sentral AS, terutama setelah keputusan The Fed yang disertai perbedaan pandangan di antara para pejabatnya.

Data tenaga kerja AS turut menjadi perhatian. Klaim awal pengangguran untuk pekan yang berakhir 17 Oktober turun 6.000 menjadi 194.000, lebih rendah daripada perkiraan pasar sebesar 200.000 dan menjadi angka terendah sejak pertengahan Juli. Meski pasar tenaga kerja masih dinilai solid, biaya energi yang tinggi, ketidakpastian suku bunga, serta kebijakan perdagangan tetap membayangi keputusan perekrutan perusahaan.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis pukul 20.15 WIB. Konsensus memperkirakan suku bunga pembiayaan utama bertahan di 2,65% dan fasilitas deposito di 2,50%. Pasar akan mencermati pula nada komunikasi ECB terkait risiko inflasi, perlambatan pertumbuhan, dan tekanan biaya energi.

Pergerakan IHSG berikutnya akan turut dipengaruhi oleh respons pasar terhadap rangkaian data dan keputusan bank sentral tersebut. Perkembangan perang serta kenaikan imbal hasil surat berharga negara juga menjadi faktor yang dicermati investor saat menilai risiko di pasar saham dan rupiah.

Beritahariini