Penderita Asma Mau Lari 10 Km? Ini Peringatan Dokter Tirta

Dokter Tirta mengingatkan penderita asma untuk menilai kondisi penyakit dan kualitas udara sebelum mengikuti event lari, terutama jarak 10 kilometer.

penderita-asma-lari-10-km-peringatan-dokter-tirta

Penderita asma yang ingin mengikuti event lari, terutama jarak 10 kilometer, perlu menilai kondisi penyakit dan kualitas udara sebelum berolahraga. Dokter Tirta Mandira Hudhi mengingatkan, lari dapat berisiko jika asma belum terkontrol, terlebih ketika pelari terpapar polusi udara.

Menurut dokter yang dikenal sebagai Dokter Tirta itu, keamanan berlari tidak bisa disamaratakan untuk semua orang dengan asma. Kondisi masing-masing dan kemampuan mengendalikan gejala menjadi pertimbangan utama sebelum memilih aktivitas fisik jarak jauh.

Asma tidak terkontrol berisiko kambuh saat berlari

Dokter Tirta menjelaskan, asma yang tidak terkontrol dapat kambuh sewaktu-waktu. Risiko itu perlu diperhatikan ketika seseorang melakukan aktivitas fisik, termasuk berlari, karena gejala yang memburuk bisa mengganggu aktivitas dan berbahaya.

Dalam keterangannya yang dikutip Olenka dari akun Instagram pribadinya, dr.tirta, ia menegaskan bahwa keamanan lari 10 kilometer bergantung pada apakah asma seseorang terkontrol atau tidak. Jika belum terkontrol, ia menilai aktivitas tersebut berisiko tinggi.

“Kalau asmanya tuh tidak terkontrol, sangat berbahaya. Karena bisa kambuh kapan pun, dan kalau kamu bisa menunjukkan gejala eksaserbasi akut, itu bahaya,” kata Dokter Tirta.

Eksaserbasi akut adalah keadaan ketika gejala asma memburuk secara tiba-tiba. Gejalanya dapat berupa sesak napas, mengi, batuk, atau dada terasa sesak. Kondisi ini dapat menghambat seseorang beraktivitas dan, pada kasus berat, membutuhkan pertolongan medis segera.

Karena itu, keinginan mengikuti lomba atau event lari sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan. Jarak 10 kilometer menuntut pelari melakukan aktivitas fisik dalam durasi tertentu, sementara asma yang belum terkendali dapat menimbulkan gejala tanpa diduga.

Polusi udara dapat memperburuk gejala asma

Kualitas udara menjadi faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Polusi dapat memperburuk gejala asma, terutama bagi orang yang penyakitnya belum terkontrol dengan baik. Paparan udara yang kurang baik saat berolahraga dapat menambah risiko gejala muncul atau memburuk.

Imbauan untuk memperhatikan kualitas udara bukan berarti semua penderita asma harus menghindari olahraga. Namun, kondisi penyakit dan lingkungan tempat berlari perlu dilihat bersama-sama. Keputusan untuk berlari perlu mempertimbangkan apakah asmanya terkendali dan apakah aktivitas tersebut sesuai dengan keadaan kesehatan masing-masing.

Dokter Tirta menyebut asma sebagai penyakit kronis yang umumnya tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi gejalanya dapat dikendalikan melalui penanganan yang tepat. Dengan demikian, memiliki asma tidak serta-merta menutup kesempatan seseorang untuk berolahraga.

Yang menjadi pembeda adalah tingkat kendali terhadap penyakit tersebut. Menurut Dokter Tirta, penderita asma yang kondisinya terkontrol masih dapat berlari, tetapi aktivitas itu perlu dilakukan dalam pantauan dokter spesialis paru.

Konsultasi dokter sebelum mengikuti event lari

Pesan utama Dokter Tirta adalah memastikan asma terkontrol sebelum berlari, khususnya untuk jarak jauh. Pemantauan dokter spesialis paru diperlukan agar aktivitas fisik yang dipilih sesuai dengan kondisi penderita, bukan hanya berdasarkan kemampuan atau keinginan untuk mengikuti event.

Jika asma masih tidak terkontrol, risiko kambuh dan munculnya eksaserbasi akut perlu menjadi perhatian serius. Sesak napas, mengi, batuk, maupun rasa sesak di dada merupakan gejala yang disebut dapat menandai kondisi tersebut. Pada keadaan berat, penderita bisa membutuhkan pertolongan medis segera.

Karena itu, rencana ikut lari 10 kilometer sebaiknya dibicarakan dengan dokter, sembari memperhatikan kondisi tubuh dan kualitas udara. Bagi penderita asma, persiapan paling penting bukan sekadar menargetkan garis finis, melainkan memastikan aktivitas yang dijalani tetap aman dan berada dalam pengawasan yang tepat.

Penjelasan Dokter Tirta memberi konteks bahwa olahraga dan asma tidak selalu saling meniadakan. Kesempatan untuk berlari tetap terbuka bagi penderita dengan asma terkontrol, sedangkan kondisi yang belum terkendali perlu ditangani lebih dulu sebelum mengambil tantangan jarak jauh.

Beritahariini