Emas dan Perak Tertekan, Seberapa Dalam Koreksinya?
Emas dan perak mencatat penurunan tajam, meski keduanya sempat menguat pada awal pekan. Pemilu sela AS, data ekonomi, dan arah suku bunga The Fed menjadi penentu berikutnya.
Harga emas dan perak mengawali pekan dengan kenaikan tipis setelah terpuruk dalam aksi jual besar-besaran. Namun, tekanan terhadap kedua logam mulia itu diperkirakan belum mereda. Pemilu sela Amerika Serikat (AS), data ekonomi, dan arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan.
Merujuk data Refinitiv, harga emas pada Senin (2/11/2026) pukul 06.31 WIB naik 0,56 persen ke US$ 3.896,48 per troy ons. Penguatan itu terjadi setelah emas menutup perdagangan Jumat di US$ 3.875,03 per troy ons, turun 3,6 persen dalam sehari.
Harga penutupan tersebut merupakan yang terendah sejak 2 Oktober 2025. Dalam sepekan, emas kehilangan 3,02 persen dan mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Kinerja bulanan juga tertekan: harga emas melemah 6,76 persen sepanjang Oktober.
Aksi jual menekan emas, level teknikal jadi perhatian
Gejolak saham teknologi di AS dan pasar global ikut membebani logam mulia. Investor diduga menjual sebagian kepemilikan emas untuk memenuhi kewajiban margin call setelah pasar saham berfluktuasi. Tekanan ini membuat emas ikut turun ketika saham teknologi melemah, meskipun imbal hasil obligasi pada pekan tersebut justru turun.
Dari sisi teknikal, penembusan level US$ 3.942 memperkuat sinyal bearish. Jika penurunan berlanjut, US$ 3.789 menjadi sasaran berikutnya. Analisis FXStreet juga menyoroti US$ 3.720 sebagai area penting, sementara tekanan jual yang lebih dalam dapat membawa harga menguji US$ 3.500 per troy ons.
Level US$ 3.500 memiliki arti tersendiri karena pernah menjadi puncak harga pada April 2025. Sebaliknya, bila harga berusaha pulih, emas perlu melewati sejumlah resistansi, yakni US$ 3.942, US$ 4.082, dan US$ 4.098. Jarak antara level-level tersebut menunjukkan besarnya tantangan bagi harga untuk membalikkan arah dalam waktu dekat.
Koreksi terbaru berlangsung setelah emas mencapai puncak US$ 5.597 pada Januari. Perubahan tajam itu membuat arah harga semakin dipengaruhi perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter, bukan semata-mata oleh permintaan terhadap aset lindung nilai.
Prospek emas terbelah di tengah sikap hawkish The Fed
Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics, Kieran Tompkins, memperkirakan tekanan terhadap emas masih dapat berlanjut. Menurut lembaga tersebut, pelemahan dolar AS dalam waktu singkat pada awal September dan pembelian emas oleh bank sentral, terutama China, sebelumnya membantu menopang harga.
Namun, prospek kebijakan The Fed dinilai lebih berat bagi emas. Pertemuan bank sentral AS pada pekan ini mengindikasikan pergeseran ke arah yang lebih hawkish, tercermin dalam perubahan bahasa pernyataan kebijakan serta perbedaan pandangan dua pejabat yang menginginkan kebijakan lebih ketat.
Tim ekonomi AS Capital Economics memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga dua kali lagi. Perkiraan itu sejalan dengan ekspektasi di pasar berjangka, sementara risiko dinilai lebih condong pada kenaikan suku bunga yang lebih besar. Suku bunga yang bertahan tinggi dapat menambah tantangan bagi emas.
Capital Economics juga menyoroti kemungkinan pecahnya gelembung saham kecerdasan buatan (AI), yang menurut tim pasarnya dapat terjadi pada tahun depan. Lembaga itu memperkirakan harga emas berada di US$ 3.600 per troy ons pada akhir 2027, jauh di bawah konsensus pasar yang menempatkan harga sekitar US$ 4.600 pada kuartal IV-2027.
Proyeksi lain menunjukkan pandangan yang berbeda. UBS memperkirakan emas mencapai US$ 5.000 per troy ons pada 2027, dengan target US$ 5.400 pada September. Survei Reuters terhadap 30 analis dan pedagang menempatkan median proyeksi harga emas 2027 di US$ 4.650 per troy ons.
Ketidakpastian pemilu AS dan ketegangan antara Washington dan Teheran juga dapat memicu permintaan logam mulia secara berkala, menurut Jateen Trivedi, Wakil Presiden sekaligus Analis Riset Komoditas dan Mata Uang LKP Securities. Perbedaan proyeksi dari sejumlah lembaga memperlihatkan bahwa prospek jangka panjang emas belum sepenuhnya suram, tetapi rentang perkiraannya masih lebar.
Perak mendekati area support penting
Perak mengalami tekanan lebih tajam dalam perdagangan sepekan. Harganya turun 8,9 persen sepanjang pekan lalu, sedangkan penutupan Jumat berada di US$ 49,11 per troy ons setelah jatuh 6,3 persen. Posisi itu menjadi harga penutupan terendah sejak November 2025.
Pada Senin (2/11/2026) pukul 06.50 WIB, harga perak naik 1,4 persen ke US$ 49,78 per troy ons, berdasarkan Refinitiv. Meski demikian, pergerakan tersebut belum menghapus tekanan yang terjadi sebelumnya. Harga kini menguji area support penting di kisaran US$ 48 hingga US$ 50 per troy ons.
Jika harga menembus ke bawah US$ 48, perak berisiko melanjutkan penurunan menuju rentang US$ 44-US$ 45. Kenaikan harga minyak mentah turut menambah kekhawatiran inflasi dan membuka peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama, sementara aksi jual saham teknologi mengguncang pasar keuangan global.
Dalam jangka panjang, kebutuhan industri terhadap perak masih menjadi penopang. Logam ini digunakan untuk perangkat keras komputasi dan sistem kelistrikan yang mendukung perkembangan AI. Namun, untuk pekan ini, perhatian pasar tetap tertuju pada data ekonomi AS, pemilu sela, serta sinyal kebijakan The Fed. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi petunjuk apakah penguatan awal pekan mampu bertahan atau hanya jeda di tengah tekanan jual.
