DBD Tulungagung Tembus 315 Kasus, Dua Pasien Meninggal
Dinkes Tulungagung mencatat 315 kasus DBD hingga September 2026 dan dua pasien meninggal. Warga diminta menjalankan PSN serta segera memeriksakan diri jika demam tak membaik.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung terus memantau perkembangan demam berdarah dengue (DBD) yang masih ditemukan pada musim kemarau. Sepanjang Januari hingga September 2026, tercatat 315 kasus, dengan dua pasien meninggal dunia. Kedua korban merupakan warga Kecamatan Boyolangu dan Gondang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan, mengatakan kasus masih muncul dalam tiga bulan terakhir meski wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 19 Oktober 2026.
Menurut Aris, dua pasien yang meninggal terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Akibatnya, mereka tidak segera memperoleh penanganan medis. Ia menegaskan, persoalan tersebut bukan karena tenaga kesehatan terlambat memberikan pelayanan.
Kasus DBD tetap muncul saat kemarau
Catatan Dinkes menunjukkan, kemarau tidak serta-merta menghentikan penambahan kasus DBD di Tulungagung. Dalam rentang tiga bulan terakhir, petugas masih menemukan pasien yang terjangkit penyakit tersebut. Karena itu, dinas kesehatan terus mengikuti perkembangan kasus dan mengingatkan warga agar tidak lengah.
Jumlah 315 kasus yang tercatat hingga September menjadi gambaran bahwa risiko DBD masih perlu diwaspadai. Dua kematian yang menyertai laporan kasus itu juga menjadi perhatian, terutama karena pasien baru dibawa ke layanan kesehatan setelah kondisinya membutuhkan penanganan medis.
Aris menjelaskan, keterlambatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan menjadi faktor yang berhubungan dengan meninggalnya kedua warga tersebut. Penjelasan itu sekaligus meluruskan bahwa kematian bukan disebabkan keterlambatan penanganan oleh tenaga medis setelah pasien tiba di fasilitas pelayanan kesehatan.
Dinkes tidak hanya memantau angka kasus, tetapi juga mengimbau masyarakat melakukan langkah pencegahan di lingkungan masing-masing. Upaya itu diarahkan untuk menekan risiko penularan sekaligus mencegah bertambahnya korban.
Dinkes Tulungagung minta warga lakukan PSN
Salah satu langkah yang ditekankan adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Warga diminta menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang menyimpan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air.
Imbauan tersebut menempatkan kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya pencegahan yang dapat dilakukan langsung oleh masyarakat. Tempat penampungan air dan barang bekas menjadi perhatian karena dapat menjadi lokasi yang perlu diperiksa saat warga menjalankan PSN.
Aris juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebugaran. Caranya antara lain beristirahat cukup, mengonsumsi air putih dan makanan bergizi, serta berolahraga secara teratur. Pesan itu disampaikan bersamaan dengan anjuran untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan, meskipun musim kemarau sedang berlangsung.
Demam tak kunjung membaik perlu diperiksa
Dinkes meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami demam yang tidak kunjung membaik. Pemeriksaan juga perlu dilakukan ketika demam disertai gejala lain yang dirasa mengkhawatirkan.
Imbauan untuk tidak menunda pemeriksaan menjadi penting dalam konteks dua pasien yang meninggal. Keduanya, menurut keterangan Aris, terlambat dibawa ke layanan kesehatan sehingga tidak segera mendapatkan penanganan medis. Warga diharapkan lebih cepat mencari pertolongan ketika kondisi kesehatan memburuk.
Dengan kasus yang masih tercatat selama kemarau, pencegahan DBD di Tulungagung membutuhkan perhatian berkelanjutan. Dinkes memantau perkembangan penyakit tersebut, sementara warga diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menjalankan PSN, dan segera memeriksakan diri bila demam tak kunjung membaik.
