Peretasan Binance Rp 114 Triliun Berawal dari Malware
Investigasi Binance menyebut pencurian kripto senilai sekitar Rp 114 triliun bermula dari malware dan wawancara kerja palsu. Sebagian aset telah dibekukan.
Pencurian kripto senilai lebih dari US$6,3 miliar atau sekitar Rp 114 triliun dari Binance diduga bermula dari malware yang menyusup ke komputer seorang engineer. Dalam kronologi hasil investigasi internal Binance, serangan itu juga memanfaatkan wawancara kerja palsu untuk menargetkan karyawan yang menangani infrastruktur dompet kripto.
Serangan yang diyakini sebagai pencurian kripto terbesar tersebut berlangsung melalui beberapa tahap, sejak malware terpasang hingga kode berbahaya dijalankan. Binance menyatakan sebagian aset yang dicuri berhasil dibekukan atau dicegat. Sementara itu, FBI mengaitkan serangan dengan peretas Korea Utara, tuduhan yang dibantah Pyongyang.
Malware masuk lewat iklan pencarian aplikasi coding
Menurut hasil investigasi Binance, rangkaian kejadian bermula pada Juni 2026. Seorang engineer perusahaan itu tidak sengaja memasang malware yang disebarkan melalui iklan di Google. Saat itu, ia sedang mencari installer untuk aplikasi coding berbasis kecerdasan buatan.
Binance mendeteksi aktivitas mencurigakan dan segera mengganti perangkat milik engineer tersebut sebagai langkah pencegahan. Namun, malware sudah lebih dulu membuka akses terhadap informasi mengenai posisi engineer itu dan karyawan lain yang bertugas mengawasi infrastruktur dompet kripto Binance.
Informasi mengenai peran dan lingkungan kerja para karyawan kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian serangan. Pada September 2026, seseorang yang mengaku sebagai direktur proyek menghubungi engineer Binance lainnya melalui platform pencari kerja resmi.
Kontak itu tidak langsung meminta akses ke sistem perusahaan. Engineer tersebut diajak mengikuti wawancara kerja dalam dua tahap: pertama melalui panggilan video dengan seseorang yang mengaku sebagai perwakilan HRD, lalu dilanjutkan dengan CEO perusahaan fiktif.
Wawancara kerja palsu menjadi jalan masuk
Dalam wawancara tahap kedua, engineer itu diminta mengunduh sebuah repository kode. Berkas tersebut disebut sebagai tugas wawancara, tetapi menurut investigasi Binance, isinya ternyata malware. Modus ini mengubah proses rekrutmen yang tampak wajar menjadi sarana untuk menanam perangkat berbahaya.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa serangan tidak hanya mengandalkan celah teknis. Pelaku juga memanfaatkan kepercayaan dan konteks profesional: iklan aplikasi yang dicari engineer, lalu tawaran pekerjaan yang tampak resmi. Keduanya menjadi pintu masuk berbeda yang mengarah pada lingkungan kerja karyawan Binance.
Pada 20 Oktober 2026, peretas menggunakan komputer yang telah diretas serta alat kecerdasan buatan internal untuk mengendalikan komputer engineer tersebut dan seorang developer dompet kripto lain dalam tim yang sama. Informasi dalam laporan yang dirangkum sumber tidak menjelaskan secara terperinci bagaimana alat internal itu digunakan.
Perkembangan berikutnya terjadi pada 29 Oktober. Peretas menggunakan komputer milik developer kedua dengan kredensial yang dicuri dari engineer pertama. Dari perangkat itu, mereka menjalankan kode berbahaya dan meluncurkan serangan terhadap aset kripto.
Aset senilai Rp 114 triliun dicuri
Serangan berlangsung cepat dan mengakibatkan aset kripto senilai lebih dari US$6,3 miliar dicuri dari Binance. Nilainya setara sekitar Rp 114 triliun. Besarnya kerugian membuat insiden ini diyakini sebagai pencurian kripto terbesar yang pernah terjadi.
Binance menyatakan US$2,85 miliar dari total aset yang dicuri telah dibekukan atau berhasil dicegat. Angka tersebut menunjukkan sebagian dana dapat ditahan, meski sumber tidak merinci berapa bagian yang akhirnya dapat dipulihkan atau bagaimana status sisa aset yang dicuri.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana kompromi terhadap perangkat karyawan dapat berkembang menjadi serangan terhadap infrastruktur bernilai tinggi. Dalam kronologi Binance, akses awal berasal dari malware, sementara wawancara palsu dipakai untuk menyusup melalui karyawan lain. Kredensial yang dicuri kemudian dimanfaatkan untuk menjalankan kode berbahaya.
FBI mengaitkan serangan dengan Korea Utara
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengaitkan serangan tersebut dengan peretas Korea Utara yang terhubung dengan kelompok TraderTraitor. Namun, Korea Utara membantah tuduhan itu.
Kim Yo Jong, pejabat tinggi Korea Utara sekaligus saudara perempuan pemimpin negara tersebut, menyebut tuduhan itu sebagai upaya jahat Amerika Serikat untuk merusak citra Korea Utara di mata publik. Dengan bantahan tersebut, atribusi pelaku masih menjadi bagian yang diperdebatkan, sementara Binance telah memaparkan urutan teknis yang menurut investigasinya mendahului pencurian.
Perhatian berikutnya tertuju pada upaya menelusuri dan membekukan aset yang masih dapat dijangkau, serta memastikan bagaimana kredensial dan perangkat karyawan bisa disalahgunakan. Kronologi ini juga menjadi pengingat bagi perusahaan untuk memeriksa sumber unduhan perangkat lunak dan memverifikasi proses rekrutmen—terutama ketika tugas wawancara mengharuskan kandidat mengunduh kode.
