Belalang Goreng Veda Ega Jadi Sorotan di Podium Sepang

Veda Ega membawa belalang goreng khas Gunungkidul ke perayaan podium Moto3 Malaysia 2026. Maximo Quiles menolak tawarannya sambil tertawa, sementara Veda menyantap camilan itu sendiri.

belalang-goreng-veda-ega-podium-sepang

Veda Ega Pratama merayakan finis kedua di Moto3 Malaysia 2026 dengan cara yang tak biasa. Pebalap asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu membawa belalang goreng ke area podium Sirkuit Sepang dan menawarkannya kepada Maximo Quiles, pemenang balapan, pada Minggu (1/11/2026).

Momen tersebut terekam dalam video yang beredar di media sosial. Veda membuka wadah berisi camilan itu dan menyodorkannya kepada Quiles. Sang juara tampak terkejut, lalu menolak sambil tertawa. Veda kemudian menyantap belalang goreng itu sendiri.

Belalang goreng dibawa Veda ke perayaan podium

Aksi spontan itu berlangsung setelah persaingan ketat di lintasan. Veda memulai balapan dari posisi kedelapan, sementara Quiles berada di baris terdepan. Pada akhir lomba, Quiles finis pertama, disusul Veda di posisi kedua dan Alvaro Carpe di urutan ketiga.

Hasil di Sepang menjadi podium kedua Veda di Grand Prix setelah sebelumnya naik podium di GP Brasil. Ia harus bersaing dalam perebutan posisi runner-up dengan Hakim Danish, David Almansa, dan Alvaro Carpe hingga balapan berakhir. Finis kedua sekaligus menjadi hasil terbaiknya dalam ajang Grand Prix.

Di tengah suasana perayaan, Veda meminta camilan kesukaannya kepada tim. Ia lalu menawarkan isi wadah itu kepada Quiles. Reaksi penolakan sang pebalap Spanyol mengundang tawa, tetapi Veda tampak santai dan menikmati camilan khas daerah asalnya tersebut.

Walang goreng, camilan khas Gunungkidul

Belalang goreng, yang juga dikenal dengan sebutan walang goreng, bukan makanan asing bagi Veda. Camilan ini dikenal sebagai salah satu kuliner khas Gunungkidul dan banyak dijual sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. Di sejumlah tempat, belalang goreng ditawarkan di pinggir jalan maupun pusat oleh-oleh, dalam bentuk tusukan atau kemasan stoples.

Belalang yang biasa diolah adalah belalang sawah berwarna kecokelatan. Sebelum digoreng, sayap dan kakinya dibuang. Belalang kemudian dibersihkan, dibumbui, dan digoreng sampai kering. Hasilnya memiliki tekstur renyah dan rasa gurih.

Bumbu yang umum digunakan antara lain bawang putih, garam, dan ketumbar. Ada pula pilihan rasa pedas dan manis, sementara sejumlah penjual menawarkan olahan bercita rasa bacem. Belalang goreng bahkan dapat dibuat tanpa tambahan bumbu; rasa gurihnya tetap terasa setelah digoreng hingga renyah.

Hidangan lokal yang lekat dengan alam Gunungkidul

Kepopuleran camilan ini berkaitan dengan kondisi wilayah Gunungkidul yang memiliki banyak pepohonan dan lahan pertanian. Lingkungan tersebut menjadi habitat bagi belalang, sehingga serangga ini mudah ditemukan di kawasan itu. Dari bahan yang tersedia di sekitar, belalang kemudian diolah menjadi makanan dan buah tangan yang dikenal para pelancong.

Bagi sebagian orang, menyantap serangga mungkin terdengar tidak lazim. Namun, belalang goreng sudah lama menjadi bagian dari pengalaman kuliner khas Gunungkidul. Camilan ini juga dikenal memiliki kandungan protein, dengan tekstur garing yang menjadi daya tarik tersendiri.

Veda membawa potongan kecil dari kampung halamannya ke panggung balap internasional—dan membuatnya jadi bahan obrolan di tengah perayaan. Quiles memang tak ikut mencicipi, tetapi momen itu memperlihatkan bagaimana camilan lokal dapat ikut hadir dalam cerita di luar lintasan. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Gunungkidul, walang goreng pun bisa menjadi salah satu cara mengenal kekayaan kuliner daerah tersebut.

Beritahariini