BMKG Telusuri Bongkahan Es 20 Cm yang Jebolkan Rumah di Bantul
BMKG Yogyakarta menelusuri penyebab bongkahan es berdiameter sekitar 20 sentimeter yang merusak atap rumah warga di Bantul. Radar belum menunjukkan cuaca ekstrem saat kejadian.
BMKG Yogyakarta masih menelusuri penyebab bongkahan es berdiameter sekitar 20 sentimeter yang menimpa rumah warga di Dusun Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Senin pagi, 2 November 2026. Es tersebut merusak atap dan plafon rumah, tetapi penyebab kemunculannya belum dapat dipastikan.
Forecaster on duty BMKG Yogyakarta, Heri, mengatakan radar cuaca menunjukkan potensi hujan ringan hingga sedang di sekitar Bantul pada waktu kejadian, sekitar pukul 08.00 WIB. Namun, area yang terpantau berpotensi hujan berada di sebelah barat laut dari rumah yang terdampak.
Hujan di wilayah Pandak sendiri baru terpantau sekitar pukul 09.00 WIB, atau satu jam setelah kejadian yang dilaporkan warga. Perbedaan lokasi dan waktu itu membuat BMKG belum bisa menghubungkan kondisi hujan yang terekam radar dengan jatuhnya bongkahan es.
Radar BMKG belum menunjukkan cuaca ekstrem
Menurut Heri, pemantauan radar juga mencatat potensi hujan ringan hingga sedang di wilayah yang lebih jauh ke utara. Meski demikian, awan di sekitar lokasi kejadian pada pagi itu tidak menunjukkan perkembangan yang terlalu besar.
“Dari sisi hujannya aja, hujannya adanya di barat laut dari lokasi kejadian dan itu hanya ringan hingga sedang aja, awannya juga enggak terlalu tinggi,” kata Heri, Senin (2/11).
BMKG mencatat kondisi atmosfer Daerah Istimewa Yogyakarta turut dipengaruhi gangguan Madden-Julian Oscillation (MJO). Fenomena atmosfer ini memiliki rentang pergerakan sekitar 20 hingga 40 hari dan dapat memengaruhi cuaca di wilayah yang dilaluinya.
Tingkat kelembapan udara di DIY saat itu berada pada kisaran 50 hingga 90 persen, terutama di lapisan atmosfer dengan ketinggian sekitar 1,5 hingga 3 kilometer. Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah. Namun, BMKG belum memastikan apakah MJO berkaitan langsung dengan peristiwa di Dusun Jodog.
Proses pembentukan es berukuran besar masih dikaji
Heri menjelaskan, terbentuknya bongkahan es hingga berukuran besar membutuhkan dinamika atmosfer yang kuat. Dalam prosesnya, es dapat bergerak naik dan turun berulang kali di dalam awan hingga ukurannya membesar. Proses itu membutuhkan pertumbuhan awan yang sangat besar serta kondisi atmosfer yang mendukung.
“Untuk memastikan suatu fenomena yang skalanya kecil dan lokal seperti itu, analisisnya lebih dalam lagi. Perlu data yang lebih lanjut lagi,” ujar Heri. Untuk sementara, kata dia, citra radar yang tersedia belum dapat memberikan gambaran lebih rinci.
BMKG juga menilai, jika proses pembentukan es sebesar itu benar terjadi, semestinya ada indikasi atmosfer yang lebih ekstrem dan kemungkinan dampak di beberapa lokasi. Namun, pada pagi kejadian, pemantauan menunjukkan kondisi umum dan tidak memperlihatkan cuaca yang sangat ekstrem.
DIY saat ini mulai memasuki masa peralihan musim. Heri mengatakan kondisi awan pada pagi itu tidak tampak berkembang secara signifikan. Karena itu, analisis mengenai ukuran dan asal bongkahan es masih memerlukan data tambahan, bukan hanya pemantauan radar yang ada.
Atap rumah rusak, tidak ada korban
Bongkahan es dilaporkan jatuh di rumah warga RT 3 Dusun Jodog sekitar pukul 08.00 WIB. Es itu diduga semula berukuran lebih besar, lalu pecah menjadi dua bagian besar dan sejumlah potongan kecil saat menimpa rumah. Atap dan plafon bangunan jebol.
Kepala Dusun Jodog, Bayu Yunarto, menyebut kejadian tersebut janggal karena hanya satu rumah yang terdampak. Saat itu langit di kawasan tersebut mendung, tetapi tidak turun hujan air ataupun hujan es. Rumah dalam keadaan kosong ketika bongkahan jatuh sehingga tidak ada korban.
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan pihaknya telah menerima laporan dan berkoordinasi dengan BMKG untuk menelusuri kemungkinan hujan es. Ia menyebut hujan es saat peralihan musim memang dapat terjadi, tetapi ukuran bongkahan yang dilaporkan kali ini jauh lebih besar daripada yang biasanya, yang umumnya sebesar bola pingpong.
Hingga kini, penyebab jatuhnya es masih didalami lintas instansi. Pemerintah setempat juga belum menyimpulkan apakah ada unsur kesengajaan. Hasil pemeriksaan dan data atmosfer lanjutan diharapkan dapat menjelaskan peristiwa yang dampaknya hanya terjadi di satu rumah itu.
